Cerita Fiksi
Arif mengenal judi online bukan dari niat, melainkan dari rasa penasaran. Awalnya hanya iklan yang muncul di layar ponselnya saat ia sedang beristirahat sepulang kerja. Kalimatnya sederhana, menggoda, dan terdengar meyakinkan: modal kecil, hasil besar.
Sebagai pegawai dengan gaji pas-pasan, Arif merasa kalimat itu seperti berbicara langsung kepadanya. Ia tidak berpikir panjang. “Sekali coba, toh cuma uang kopi,” pikirnya.
Malam itu, Arif mendaftar. Prosesnya cepat, nyaris tanpa hambatan. Dalam hitungan menit, ia sudah berada di dalam permainan. Ajaibnya, pada percobaan pertama, ia menang. Tidak besar, tapi cukup untuk membuat dadanya berdebar dan pikirannya berbunga-bunga.
Kemenangan kecil itu menjadi awal dari keyakinan palsu. Arif mulai merasa dirinya pintar, merasa tahu pola, merasa bisa mengendalikan permainan. Ia kembali bermain keesokan harinya, lalu hari berikutnya, dan hari setelahnya.
Masalah mulai muncul ketika kemenangan tak lagi datang. Saldo menipis, tapi Arif justru merasa harus “balik modal”. Ia menambah deposit, lalu menambah lagi. Setiap kekalahan selalu ia balut dengan harapan: sekali lagi pasti menang.
Bahagia Diawal, Sengsara Kemudian
Waktu mulai berubah. Tidurnya berantakan. Fokus kerjanya menurun. Ponsel tak pernah jauh dari genggaman. Ia mulai berbohong—pada dirinya sendiri dan pada orang-orang di sekitarnya. Ketika uang tabungan habis, ia menyentuh dana yang seharusnya tidak ia sentuh.
Suatu malam, Arif menatap layar kosong. Tidak ada saldo. Tidak ada kemenangan. Hanya sisa notifikasi dan rasa sesak di dada. Ia sadar, yang ia kejar bukan lagi uang, melainkan sensasi menang yang dulu pernah ia rasakan—dan itu tidak pernah kembali.
Di titik itulah Arif mengerti satu hal penting: judi online bukan soal keberuntungan atau kepintaran, tapi tentang sistem yang selalu berpihak pada rumah permainan. Pemula seperti dirinya hanyalah sasaran empuk, diberi kemenangan kecil di awal agar percaya, lalu perlahan ditarik semakin dalam.
Arif berhenti. Tidak mudah, tidak instan. Tapi ia memilih menyelamatkan sisa hidupnya sebelum semuanya benar-benar habis.
Kisah Arif bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami. Bagi siapa pun yang baru tergoda mencoba, ingatlah satu hal: tidak semua yang terlihat mudah benar-benar membawa jalan keluar. Kadang, itu justru pintu masuk ke masalah yang jauh lebih besar.
