Dimas baru saja mendengar tentang platform judi online dari seorang teman kampus. Awalnya ia skeptis, tapi rasa penasaran mengalahkan keraguannya. “Cuma sekali coba, buat seru-seruan,” pikirnya.
Dengan modal kecil, Dimas mendaftar dan mulai bermain. Taruhan pertamanya terasa mendebarkan. Setiap klik, setiap putaran, membuat jantungnya berdetak kencang. Layar ponsel menyala dengan notifikasi kemenangan, membuatnya tersenyum lebar. Sensasi itu luar biasa—seolah dunia memberinya kekuatan instan dan keberuntungan.
Kemenangan pertama itu membiusnya. Dimas merasa berada di puncak dunia digital. Teman-teman di sekitarnya hanya bisa melihatnya dari jauh, tidak tahu bahwa kepuasan sesaat itu mulai menjeratnya.
Hari demi hari, Dimas kembali bermain. Sensasi kemenangan pertama menguatkan ilusi bahwa ia bisa menang lagi, selalu. Tapi tidak lama kemudian, kekalahan datang bertubi-tubi. Saldo menipis, tapi ia tetap bertahan, berharap “sekali lagi pasti menang.”
Efeknya mulai terlihat. Tidur terganggu, fokus kuliah menurun, dan hubungan dengan keluarga renggang. Setiap notifikasi taruhan membuatnya gelisah, adrenalin memuncak, tapi juga rasa bersalah yang menekan.
Suatu malam, Dimas menatap layar kosong. Semua saldo habis. Semua kemenangan sesaat hilang begitu saja. Ia baru sadar bahwa sensasi taruhan pertama hanyalah jebakan untuk menariknya lebih dalam.
Dengan napas panjang, Dimas menutup aplikasi itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak kembali. Sensasi kemenangan pertama memang memikat, tapi harga yang dibayar jauh lebih mahal. Ia belajar bahwa berjudi bukan sekadar permainan—itu jebakan digital yang bisa merenggut lebih dari sekadar uang.
Kisah Dimas menjadi pengingat bagi pemula: jangan tergiur sensasi sesaat, pahami risikonya, dan jangan biarkan satu kemenangan kecil menjadi awal kehancuran.
