Namaku Raka.
Dan aku yakin, ada sebuah website di internet yang tahu siapa aku—bahkan sebelum aku sendiri tahu apa yang kucari.

Awalnya biasa saja.

Malam itu hujan turun pelan, jam menunjukkan pukul 01.37. Aku bosan, mataku lelah, pikiranku penuh. Seperti kebanyakan orang di jam segila itu, aku membuka ponsel tanpa tujuan. Scroll. Tutup. Buka lagi. Sampai sebuah iklan muncul di sela-sela berita.

“Raka, keberuntunganmu belum habis malam ini.”

Aku membeku.

Itu namaku. Bukan nama panggilan, bukan username. Namaku yang jarang kupakai di internet.

Kupikir itu kebetulan. Algoritma. Kebodohan modern. Tapi jariku tetap menekan iklan itu.

Loading…
Layar gelap…
Lalu muncul sebuah website dengan latar hitam pekat dan animasi api merah tipis di sudut layar.

Di bagian atas tertulis:

“Selamat datang kembali, Raka.”

Padahal aku yakin—aku belum pernah ke sini sebelumnya.


Permainan Pertama

Website itu sederhana. Tidak banyak menu. Hanya satu tombol besar di tengah:

MAIN SEKARANG

Tanpa registrasi. Tanpa login. Tidak diminta apa pun.

Begitu aku menekan tombol itu, saldo langsung muncul:
Rp 50.000 – Bonus Awal

“Lumayan,” gumamku.

Aku memilih permainan slot. Putaran pertama—menang kecil. kedua—menang lebih besar. Putaran —layar bergetar, suara koin berdenting keras.

MENANG BESAR, RAKA.

Namaku lagi.

Aku tertawa. Deg-degan. Jantungku berdetak cepat. Dalam 10 menit, saldo berubah jadi ratusan ribu. Website itu terasa… ramah. Seolah tahu kapan aku ragu, kapan aku berharap.

Setiap kali aku berhenti sebentar, muncul notifikasi kecil:

“Masih ada peluangmu, Raka.”
“Satu putaran lagi saja.”

Dan aku selalu menurut.


Website Itu Mulai Bicara

Malam berikutnya, aku kembali. Tanpa iklan. Tanpa dicari. Website itu seperti… menungguku.

Begitu terbuka, muncul pesan:

“Kami tahu kamu akan kembali.”

Aku mulai merasa tidak nyaman. Tapi saldo yang kutarik kemarin benar-benar masuk ke rekeningku. Nyata. Bukan ilusi.

Permainan malam itu lebih gila. Hampir setiap putaran menang. Rasanya seperti aku dikendalikan—atau justru dikasih kendali penuh.

Saat aku kalah besar untuk pertama kalinya, layar berubah gelap.

Tulisan putih muncul pelan:

“Tenang, Raka. Kekalahan ini bagian dari jalanmu.”

Tanganku berkeringat. Aku menutup laptop.

Tapi sebelum layar mati, satu kalimat terakhir muncul:

“Kami tahu kamu akan membuka kami lagi.”


Nama Itu Di Mana-Mana

Sejak malam itu, hidupku berubah.

Email masuk dengan subjek:
“Raka, ini kesempatan terakhirmu hari ini.”

Notifikasi ponsel tengah malam:
“Saldo kamu menunggumu, Raka.”

Yang paling mengganggu—suatu sore aku mendengar namaku disebut… padahal aku sendirian.

Aku mulai kalah lebih sering. Setiap kali ingin berhenti, website itu seperti menekan pikiranku.

“Kamu tidak sejauh ini untuk berhenti, Raka.”
“Sedikit lagi. Kamu hampir menang besar.”

Aku mulai berbohong. Ke keluarga. Ke teman. dan diri sendiri.

Dan setiap kali aku kalah, satu kalimat selalu muncul:

“Kami masih di sini. Menunggumu.”


Akhir yang Tidak Pernah Benar-Benar Berakhir

Suatu malam, setelah saldo terakhirku habis, website itu tidak langsung menutup permainan.

Layar berubah hitam total.

Lalu muncul teks terakhir, lebih besar dari sebelumnya:

“Raka, sekarang giliranmu yang kami mainkan.”

Sejak malam itu, website itu hilang. Tidak bisa dibuka. Tidak bisa dicari.

Tapi namaku masih sering muncul—di mimpi, di notifikasi aneh, di layar ponsel yang menyala sendiri pukul 01.37.

Dan yang paling menakutkan…

Setiap kali aku tergoda untuk mencari hiburan cepat, suara kecil di kepalaku selalu berbisik:

“Kami tahu kamu akan kembali.”