Titik Terendah
Ia tak pernah membayangkan hidupnya akan sampai di titik ini. Duduk sendirian di kamar sempit, hanya ditemani cahaya layar ponsel dan secangkir kopi yang telah dingin. Angka saldo di aplikasi judi online nyaris menyentuh nol. Bukan pertama kalinya, namun kali ini terasa jauh lebih berat.
Semua bermula dari rasa penasaran. Awalnya hanya mencoba, sekadar hiburan setelah lelah bekerja. Kemenangan kecil di awal memberi rasa percaya diri berlebihan. Ia merasa mampu mengendalikan permainan, merasa lebih unggul dari sistem. Tanpa disadari, justru sistem itulah yang perlahan mengambil alih kendali hidupnya.
Kekalahan mulai datang silih berganti. Alih-alih berhenti, ia terus mengejar. Setiap kekalahan melahirkan harapan palsu bahwa kemenangan besar sudah dekat. Ia mulai menggeser uang kebutuhan, meminjam ke sana-sini, bahkan berbohong demi bisa kembali bermain.
Perlahan, dampak psikologis mulai terasa. Tidur menjadi tidak teratur, pikiran dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Emosi semakin sulit dikendalikan. Hal kecil mudah memicu amarah, sementara rasa tenang semakin jarang ia rasakan. Ponsel bukan lagi alat komunikasi, melainkan sumber harapan sekaligus kecemasan.
Malam itu menjadi titik terendah dalam hidupnya.
Setelah satu putaran terakhir berakhir dengan kekalahan, ia menatap layar ponsel dalam diam. Tidak ada lagi amarah, tidak ada dorongan untuk mengejar. Yang tersisa hanyalah kelelahan mendalam. Saat itu ia sadar, yang telah hilang bukan sekadar uang, melainkan kepercayaan diri, ketenangan batin, dan rasa hormat pada dirinya sendiri.
Ia mematikan ponsel dan duduk dalam keheningan. Untuk pertama kalinya, ia mengakui bahwa dirinya telah kalah. Bukan kalah dari permainan, melainkan dari kecanduan yang selama ini ia biarkan tumbuh.
Air mata jatuh tanpa suara. Bukan karena kekalahan terakhir, tetapi karena kesadaran yang datang terlambat. Namun di balik rasa hancur itu, muncul satu hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: keinginan untuk berhenti.
Ia tahu jalan ke depan tidak akan mudah. Akan ada godaan, rasa menyesal, dan ketakutan menghadapi kenyataan. Namun titik terendah itu memberinya pelajaran penting. Terkadang, seseorang harus jatuh sedalam-dalamnya untuk menyadari bahwa hidupnya masih layak diperjuangkan.
