Awal yang Menggiurkan

Angka-angka itu menari di layar ponsel Ardi seperti janji manis yang tak pernah lelah dirayu. Grafik hijau menanjak, persentase kemenangan mencapai 92%, dan notifikasi kecil berbunyi: “Pola gacor terdeteksi.” Di bawahnya, statistik lain muncul—20 pemain terakhir menang besar.

Ardi tersenyum.
“Kalau mereka bisa, gue juga bisa,” gumamnya.

Malam yang Sepi

Malam itu hujan turun pelan, menemani kesunyian kamar kos yang sempit. Lampu redup, kipas tua berdecit, dan layar ponsel menjadi satu-satunya sumber cahaya. Ardi baru saja pulang kerja lembur. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh tagihan. Statistik di layar terasa seperti jalan pintas menuju napas lega.

Percobaan Pertama

Ia masih ingat pertama kali mencoba judi online. Hanya iseng. Deposit kecil, main sebentar, lalu menang. Tidak besar, tapi cukup untuk membeli makan malam dan rokok. Sejak itu, algoritma mulai mengenalnya. Setiap kali kalah, muncul pesan motivasi. Setiap ragu, statistik disodorkan.

RTP 98%.
Jam hoki aktif.
Pola stabil.

Angka-angka itu terasa ilmiah. Terukur. Meyakinkan.

Terjebak Ilusi

Ardi mulai mencatat. Ia membuat tabel kecil di buku tulis: jam bermain, jenis permainan, hasil menang dan kalah. Anehnya, catatan itu sering “sesuai” dengan statistik di aplikasi. Ketika aplikasi menyebut pukul 01.00–02.00 sebagai jam terbaik, Ardi memang sempat menang.

Ia tak sadar, ia hanya mengingat kemenangan—bukan puluhan putaran kosong sebelumnya. Malam berganti malam. Deposit naik. Durasi bermain memanjang. Ketika kalah, statistik berubah. Grafik merah turun sebentar lalu hijau kembali. Seolah berkata, “Sedikit lagi.”

Titik Terendah

Suatu hari, saldo Ardi habis. Bukan sisa, benar-benar nol. Ia menatap layar kosong, menunggu notifikasi “menang besar” yang tak kunjung muncul. Sebagai gantinya, muncul promo: “Kesempatan terakhir hari ini. Statistik menunjukkan peluang tinggi.”

Ardi tertawa kecil, getir.
“Statistik apaan sih…” katanya lirih, sambil menggeser notifikasi.

Ia meminjam uang. Sekali. Lalu dua kali. Statistik tetap ramah. Grafik tetap optimis. Bahkan ketika kenyataan berkata sebaliknya.

Kesadaran Pahit

Puncaknya terjadi saat Ardi duduk di warung kopi, menunggu pesan balasan dari ibunya yang tak kunjung datang. Uang kiriman yang seharusnya ia kirim bulan itu habis dalam semalam. Di layar ponsel, statistik masih bersinar. Winrate global meningkat.

Ia menutup aplikasi. Untuk pertama kalinya, ia melihat pantulan wajahnya di layar hitam. Mata cekung. Rahang tegang. Tangan gemetar.

Ardi akhirnya sadar: statistik itu bukan cermin kenyataan, melainkan umpan. Ia tak pernah melihat data pemain yang kalah. Tak ada grafik tentang mereka yang terpuruk. Yang ditampilkan hanyalah potongan kecil yang menguntungkan sistem.

Kebangkitan

Malam itu, Ardi menghapus aplikasi. Bukan dengan gagah, tapi dengan takut. Takut tergoda lagi. Takut percaya lagi pada angka-angka yang tak pernah benar-benar berpihak.

Hujan kembali turun. Kali ini lebih deras. Ardi membuka jendela, menghirup udara basah, dan untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa benar-benar terjaga.

Statistik bisa direkayasa.
Harapan bisa dimanipulasi.
Tapi kenyataan—tak pernah bisa dibohongi.