Cerita Fiksi

Arga mulai mengenali pola yang menurutnya masuk akal.

Malam itu berbeda dari malam pertama. Tidak ada hujan, tidak ada kebosanan. Yang ada hanya keyakinan. Ia duduk di kursi yang sama, di kamar kos yang sama, tapi perasaannya tidak lagi ragu. Kali ini, ia tidak datang sebagai orang penasaran—ia datang sebagai orang yang merasa mengerti.

Saldo di layar ponselnya lebih besar dari sebelumnya. Bukan karena ia menambah banyak, melainkan karena ia sempat menang beberapa kali sejak malam pertama. Kemenangan-kemenangan kecil itu menumpuk, memberi kesan bahwa ia sedang berada di jalur yang benar.

“Ternyata memang bisa,” pikirnya.


Kemenangan Kecil yang Menumbuhkan Keyakinan

Ia menyalakan permainan favoritnya. Musik ceria kembali terdengar, kini terasa akrab. Jarinya menekan tombol spin dengan lebih tenang. Tidak ada gemetar. Tidak ada ragu.

Spin berjalan.
Menang kecil.
Spin lagi.
Menang lagi.

Senyum Arga mengembang. Dadanya dipenuhi rasa puas yang sulit dijelaskan. Ia mulai menghitung dalam kepalanya—bukan berapa yang bisa hilang, melainkan berapa yang bisa didapat.

Kalau begini terus, lumayan juga.

Ia menaikkan taruhan. Sedikit saja. Hanya untuk “memaksimalkan momen”. Anehnya, kemenangan kembali datang. Tidak besar, tetapi cukup untuk memperkuat keyakinannya bahwa malam ini adalah malam keberuntungan.

Jackpot kecil muncul di layar.


Rasa Percaya Diri yang Berlebihan

Arga tertawa pelan. Kali ini bukan tawa heran, melainkan tawa percaya diri. Ia bersandar, menatap layar seperti seseorang yang baru saja membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri.

Gampang. Tinggal sabar dan tahu waktu.

Ia mulai merasa lebih pintar dari permainannya.

Waktu berjalan tanpa terasa. Jam di dinding sudah melewati tengah malam, tetapi Arga tidak peduli. Fokusnya hanya pada layar dan angka yang naik turun. Setiap kekalahan kecil ia anggap wajar. Setiap kemenangan ia anggap bukti.

Saat kalah, ia berkata pada dirinya sendiri:
Ini cuma jeda.

Saat menang, ia berkata:
Ini hasil strategi.

Padahal tidak ada strategi. Tidak ada kendali. Yang ada hanyalah rangkaian kebetulan yang dibungkus rasa percaya diri berlebihan.


Saat Keberuntungan Berbalik Arah

Taruhan dinaikkan lagi.

Kali ini, layar tidak ramah.
Spin demi spin berlalu tanpa hasil.
Saldo berkurang lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Arga mengerutkan dahi. Ia mendekatkan ponsel ke wajahnya, seolah jarak bisa mengubah hasil. Ia menekan tombol spin dengan lebih keras, seakan tekanan jari dapat memengaruhi keberuntungan.

Sebentar lagi juga balik.

Namun kemenangan tidak datang.

Keringat dingin mulai muncul di telapak tangannya. Senyum tadi menghilang, digantikan ekspresi serius. Arga tidak berhenti—bukan karena berharap menang besar, melainkan karena ingin mengembalikan apa yang barusan hilang.

Ia terjebak.

Bukan oleh kekalahan besar, melainkan oleh kemenangan-kemenangan kecil sebelumnya. Jackpot ilusi yang membuatnya merasa aman, pintar, dan beruntung.


Kesadaran yang Datang Terlambat

Saat saldo hampir habis, Arga berhenti. Tangannya terdiam di udara, sebelum akhirnya ponsel diletakkan perlahan di meja. Ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya. Musik permainan telah berhenti, tetapi gema euforianya masih tersisa di kepalanya.

Ia menatap layar yang kini gelap.

Baru kali ini ia menyadari: rasa percaya diri itu bukan datang dari kemampuan, melainkan dari ilusi kemenangan sementara.

Arga bersandar dan menutup mata. Dadanya terasa sesak—bukan karena uang yang hilang, melainkan karena kenyataan yang baru saja muncul.

Ia bukan sedang mengendalikan permainan.
Permainanlah yang perlahan mengendalikannya.

Jackpot kecil itu tidak pernah dimaksudkan untuk membuatnya kaya. Ia hanyalah umpan—cukup manis untuk membuat Arga percaya bahwa dirinya istimewa.

Malam itu, Arga belajar satu hal pahit:

Tidak semua kemenangan adalah keberhasilan.
Kadang, kemenangan hanyalah cara paling halus untuk menjerat seseorang lebih dalam.

Dan di situlah ia terjebak—
di dalam jackpot ilusi.