Cerita Fiksi

Arga hampir berhasil bertahan.

Sudah dua hari ia tidak membuka aplikasi itu. Ponselnya lebih sering tergeletak di meja, layar menghadap ke bawah, seolah dengan begitu godaan bisa ikut terkubur. Meski pikirannya belum sepenuhnya tenang, setidaknya ada jarak—jarak yang ia butuhkan untuk bernapas.

Sampai notifikasi itu muncul.

Layar ponselnya menyala sendiri, memecah kesunyian kamar.

“Bonus Spesial Hari Ini! Deposit Besar, Peluang Lebih Besar!”

Arga menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat dari seharusnya. Ia mencoba mengabaikan, memalingkan pandangan, tapi kalimat itu terlanjur tertanam di kepalanya.

Peluang lebih besar.


Godaan yang Datang di Saat Terlemah

Arga duduk di tepi ranjang. Pikirannya mulai bekerja—bukan dengan logika, melainkan dengan harapan. Ia mengingat semua kerugian yang belum kembali, semua saldo yang menguap tanpa jejak.

Kalau ada bonus… mungkin bisa balik.

Ia membuka aplikasi itu, hanya untuk “melihat”. Hanya membaca detailnya. Bonus besar. Putaran tambahan. Syarat yang terlihat rumit, tapi kata-kata promosinya terasa meyakinkan.

Kesempatan langka.
Jangan sampai terlewat.

Arga tersenyum pahit. Ia tahu kalimat-kalimat itu bukan ditujukan pada orang yang sedang menang. Itu ditujukan padanya—pada mereka yang sedang terjepit dan butuh harapan cepat.


Keputusan Impulsif

Tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya.

Deposit kali ini lebih besar dari sebelumnya. Jauh lebih besar. Saat konfirmasi muncul di layar, Arga sempat ragu sepersekian detik. Ia teringat suara ibunya di telepon, sahabatnya yang mulai menjauh, saldo yang terus menipis.

Namun notifikasi bonus langsung menyala.

Saldo bertambah.

Rasa lega semu menyelimuti dadanya. Seolah semua masalah barusan mengecil. Seolah ini adalah kesempatan terakhir yang memang ditakdirkan untuknya.

“Sekali ini saja,” bisiknya. “Habis itu berhenti.”

Kalimat itu terasa familiar. Terlalu familiar.


Harapan Palsu yang Menguat

Permainan dimulai dengan tempo cepat. Bonus aktif. Angka-angka bergerak liar. Arga duduk tegak, fokus penuh, seperti seseorang yang sedang mempertaruhkan segalanya.

Beberapa kemenangan kecil muncul. Tidak besar, tapi cukup untuk membuatnya percaya bahwa keputusan tadi benar.

Nah, kan…

Ia menaikkan taruhan lagi. Bonus terasa seperti tameng—seolah kerugian tidak benar-benar miliknya. Padahal, uang itu tetap nyata. Risiko itu tetap utuh.

Waktu berlalu. Kemenangan berhenti. Kekalahan datang bertubi-tubi.

Bonus habis lebih cepat dari yang Arga bayangkan.


Saat Manis Berubah Menjadi Pahit

Saldo mulai menyusut lagi. Kali ini lebih cepat. Arga menatap layar dengan mata lelah. Tidak ada lagi rasa percaya diri, hanya sisa-sisa harapan yang diperas sampai kering.

Ia sadar terlambat: tawaran itu tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkannya.

Bonus bukan pertolongan.
Deposit besar bukan solusi.

Itu hanya umpan terakhir yang terasa manis—tepat karena ia sedang paling rapuh.

Arga menutup aplikasi itu perlahan. Dadanya terasa kosong. Bukan marah, bukan sedih—hanya hampa.

Ia duduk diam lama, menyadari bahwa keputusan impulsif barusan bukan kesalahan pertama, tapi mungkin yang paling menentukan.


Langkah Menuju Titik Terendah

Malam itu, Arga tidak langsung tidur. Ia menatap jendela, melihat lampu kota yang tetap menyala seperti biasa. Dunia tidak berubah, meski hidupnya terasa semakin sempit.

Bonus itu menjanjikan harapan.
Yang ia dapat hanyalah penundaan dari kenyataan.

Dan Arga mulai mengerti:
setiap tawaran yang terasa terlalu manis, sering kali menyimpan rasa pahit yang jauh lebih dalam.

Di sanalah ia berdiri sekarang—
selangkah lagi menuju titik terendah.