Lampu kamar Raka redup. Jam dinding sudah melewati pukul dua pagi, tapi matanya masih terpaku pada layar ponsel. Jari-jarinya bergerak cepat, sesekali berhenti seolah sedang menghitung sesuatu yang sangat penting. Bukan angka matematika, melainkan pola. Raka bukan penjudi sembarangan—setidaknya begitu yang selalu ia yakini. Percaya dirinya pemain cerdas. Ia tidak asal menekan tombol, tidak mengikuti …
PART 22 | Pola Palsu yang Terlihat Meyakinkan