Cerita Fiksi

Arga mulai menghitung, dan untuk pertama kalinya, angka-angka itu tidak berpihak padanya.

Pagi datang tanpa semangat. Cahaya matahari menembus jendela kamar kos, menyinari meja kecil tempat ponselnya tergeletak. Arga bangun dengan kepala berat, bukan karena kurang tidur, melainkan karena sisa kegelisahan semalam. Ia membuka aplikasi itu lagi—bukan untuk bermain, hanya untuk melihat.

Saldo hampir habis.

Ia terdiam lama. Angka yang tersisa jauh dari yang ia bayangkan. Kemenangan-kemenangan kecil dulu kini terasa seperti mimpi singkat yang menguap begitu saja. Arga menghela napas, mencoba menenangkan diri.

Masih bisa dikejar, pikirnya. Pelan-pelan.


Kerugian yang Tak Lagi Kecil

Hari-hari berikutnya berjalan aneh. Arga tetap bekerja, tetap tersenyum saat bertemu orang, tapi pikirannya selalu tertinggal pada satu hal: bagaimana mengembalikan saldo yang menipis itu. Setiap istirahat makan siang, tangannya refleks meraih ponsel. Setiap malam, ia kembali duduk di kursi yang sama.

Spin demi spin.
Harapan demi harapan.

Namun kali ini, kerugian tidak lagi terasa kecil. Setiap kekalahan meninggalkan jejak—bukan hanya di saldo, tapi juga di pikirannya. Ia mulai gelisah, mudah tersinggung, dan sulit fokus. Musik permainan yang dulu terdengar ceria kini terasa menekan.

Ia menambah deposit, lalu menambah lagi.
Bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk mengejar.


Retakan di Lingkar Terdekat

Masalah mulai merembet keluar kamar kos.

Seorang teman menegurnya karena Arga sering membatalkan janji. Ibunya menelepon, menanyakan kabar dan menyinggung soal uang yang belum ia kirim bulan ini. Arga menjawab sekenanya, menghindari pertanyaan lanjutan.

“Lagi banyak kebutuhan,” katanya singkat.

Kebohongan kecil itu terasa berat di lidahnya. Namun ia tidak sanggup menjelaskan. Bagaimana mungkin ia berkata bahwa uangnya habis oleh sesuatu yang bahkan tidak bisa ia jelaskan dengan bangga?

Suatu malam, seorang sahabatnya datang ke kos. Mereka duduk berhadapan, hening lebih lama dari biasanya.

“Kamu kelihatan capek, Ga,” kata sahabatnya pelan. “Ada apa?”

Arga ingin jujur. Ingin bercerita. Tapi kata-kata itu tidak pernah keluar. Ia hanya menggeleng dan tersenyum tipis.

“Nggak apa-apa.”

Padahal segalanya tidak baik-baik saja.


Saat Tekanan Memuncak

Saldo kembali berkurang. Lebih cepat dari yang Arga perkirakan. Tangannya gemetar saat menekan tombol spin, bukan karena antusias, melainkan karena panik. Ia mulai bermain bukan untuk menang, tetapi karena takut berhenti.

Takut menghadapi kenyataan.

Tagihan datang satu per satu. Pesan dari keluarga semakin sering. Teman-temannya mulai menjaga jarak, bingung dengan perubahan sikap Arga yang makin tertutup.

Malam itu, Arga menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya. Tidak ada musik. Tidak ada kilau kemenangan. Hanya angka kecil yang nyaris nol.

Ia memijat pelipisnya, napasnya berat. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa kalah—bukan oleh permainan, tetapi oleh dirinya sendiri.


Kesadaran yang Menyakitkan

Arga duduk diam di tengah kamar yang terasa makin sempit. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia hindari: kerugian itu tidak berdiri sendiri. Ia membawa masalah lain bersamanya—jarak dengan keluarga, renggangnya pertemanan, dan beban pikiran yang kian menekan.

Saldo menipis.
Masalah membesar.

Ia menutup aplikasi itu, menaruh ponsel di laci, dan menatap kosong ke depan. Tidak ada solusi instan malam itu. Tidak ada jalan pintas. Yang ada hanya kenyataan pahit yang akhirnya menuntut untuk dihadapi.

Untuk pertama kalinya sejak spin pertama itu, Arga bertanya pada dirinya sendiri dengan jujur:

“Sampai kapan aku mau begini?”

Dan pertanyaan itu menggantung di udara, menunggu jawaban yang tidak lagi bisa ditunda.