Lampu kamar Raka redup. Jam dinding sudah melewati pukul dua pagi, tapi matanya masih terpaku pada layar ponsel. Jari-jarinya bergerak cepat, sesekali berhenti seolah sedang menghitung sesuatu yang sangat penting.

Bukan angka matematika, melainkan pola.

Raka bukan penjudi sembarangan—setidaknya begitu yang selalu ia yakini. Percaya dirinya pemain cerdas. Ia tidak asal menekan tombol, tidak mengikuti emosi. Ia mencatat, mengamati, dan menyusun strategi. Semua bermula dari sebuah forum kecil yang ia temukan beberapa bulan lalu.

“Pola ini sudah terbukti. Jangan rakus. Ikuti ritmenya.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Awal yang Terlihat Masuk Akal

Pada minggu pertama, semuanya berjalan sempurna. Raka mengikuti langkah-langkah yang ia anggap logis:

  • Menunggu beberapa putaran kosong
  • Memasang nominal kecil
  • Berhenti saat “tanda” muncul

Anehnya, ia menang.

Saldo bertambah sedikit demi sedikit. Tidak besar, tapi konsisten. Setiap kemenangan terasa seperti konfirmasi bahwa pola itu nyata. Bukan kebetulan. Bukan keberuntungan semata.

“Ini bukan judi,” gumam Raka sambil tersenyum. “Ini analisis.”

Ia mulai lebih percaya diri. Catatannya semakin tebal, tangkapan layar menumpuk, dan jam tidur semakin pendek.

Ketika Keyakinan Mengalahkan Logika

Masalah mulai muncul ketika pola yang sama tidak lagi bekerja.

Awalnya hanya satu kali kalah. Raka menganggapnya anomali. Dua kali kalah? Masih wajar. Tapi saat kekalahan datang berturut-turut, ia mulai gelisah.

Namun alih-alih berhenti, ia justru berpikir:

“Mungkin aku salah masuk timing. Polanya masih ada.”

Ia menambah nominal. Bukan karena serakah, tapi karena yakin kekalahan itu hanya fase sebelum kemenangan besar. Pola palsu itu terlihat begitu meyakinkan—terlalu rapi untuk dianggap kebetulan.

Setiap hampir menang terasa seperti “hampir benar”. Hampir tepat. Hampir sukses. Dan kata hampir itu membuatnya terus bertahan.

Ilusi Kontrol

Raka mulai merasa punya kendali. Ia percaya bahwa kegagalan bukan karena sistem, tapi karena kesalahan kecil yang bisa diperbaiki.

Ia mengubah sedikit urutan. Mengganti jam bermain. Mengombinasikan pola A dan B. Semuanya terasa masuk akal di kepalanya.

Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah ilusi kontrol—perasaan seolah ia mengendalikan sesuatu yang sejatinya acak.

Ketika saldo menipis, Raka berkata pada dirinya sendiri:

“Aku sudah terlalu jauh untuk berhenti sekarang.”

Titik Diam

Suatu malam, layar ponsel menampilkan angka nol. Tidak ada animasi. Tidak ada efek suara. Hanya keheningan.

Raka meletakkan ponsel di atas meja. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa marah. Tidak juga sedih. Hanya kosong.

Ia membuka kembali catatan lamanya. Pola-pola itu masih terlihat rapi, logis, dan meyakinkan. Tapi kini ia menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan:

Pola itu hanya terlihat masuk akal setelah kejadian berlalu.

Ia bukan menemukan kebenaran—ia hanya menyusun cerita agar kekalahan terasa bisa diterima.

Kesadaran yang Terlambat, Tapi Nyata

Raka mematikan ponselnya. Ia tahu, jika ia menyalakannya kembali, pola baru akan selalu menunggu. Selalu ada “versi lebih baik”. Selalu ada “kesempatan terakhir”.

Namun malam itu, ia memilih berhenti.

Bukan karena ia kalah segalanya, tapi karena ia akhirnya paham:
yang paling berbahaya bukan kekalahan, melainkan keyakinan palsu yang terlihat meyakinkan.

Dan pola palsu itu… hampir saja membuatnya lupa pada realitas.