CERITA FIKSI

Lampu ponsel itu kembali menyala di tengah malam.
Bukan pesan dari keluarga, bukan pula kabar pekerjaan. Hanya notifikasi kemenangan kecil dari aplikasi judi online yang sudah berbulan-bulan menempel di layar Ardi.

Awalnya, semua terasa ringan. Ardi mengenal judi online dari obrolan teman kantor. Katanya, “cuma iseng, modal receh, siapa tahu hoki.” Kalimat sederhana itu menjadi pintu masuk ke kebiasaan yang perlahan menggerogoti hidupnya.

Di minggu pertama, Ardi sempat menang. Tidak besar, tetapi cukup membuatnya tersenyum dan merasa lebih pintar dari sistem. Ia mulai bermain lebih sering—di sela jam kerja, saat makan siang, bahkan sebelum tidur. Kemenangan kecil itu berubah menjadi candu, sementara kekalahan selalu ia anggap “hampir menang”.

Pembelajaran dan Kesadaran

Tanpa ia sadari, saldo tabungannya mulai menipis. Gaji yang seharusnya cukup hingga akhir bulan, kini habis dalam hitungan hari. Setiap kalah, Ardi meyakinkan dirinya bahwa satu putaran lagi akan menutup semua kerugian. Namun kenyataannya selalu berlawanan.

Puncaknya terjadi saat ibunya menelepon.

“Ardi, kenapa transfer bulan ini belum masuk?” suara ibunya terdengar pelan, tetapi penuh harap.

Ardi terdiam. Untuk pertama kalinya, layar ponsel yang biasa ia tatap dengan penuh ambisi kini terasa menyesakkan. Ia baru sadar bahwa yang ia kejar bukan lagi uang, melainkan ilusi untuk menebus kesalahan yang terus bertambah.

Malam itu, Ardi duduk sendirian. Ia membuka kembali riwayat transaksi, melihat angka-angka yang selama ini ia hindari. Bukan hanya uang yang hilang, tetapi juga waktu, kejujuran, dan ketenangan pikirannya.

Keesokan harinya, Ardi mengambil keputusan yang tidak mudah. Ia menghapus aplikasi itu, menghubungi temannya yang pernah terjebak hal serupa, dan mulai berbicara jujur pada keluarganya. Tidak semua masalah langsung selesai, tetapi langkah kecil itu memberi ruang untuk bernapas.

Perlahan, Ardi belajar bahwa judi online tidak pernah benar-benar menawarkan jalan keluar. Ia hanya menjual harapan palsu, sementara harga yang harus dibayar adalah masa depan sendiri.

Kini, setiap kali ponselnya bergetar, Ardi memastikan itu adalah pesan nyata—bukan janji kosong dari keberuntungan semu. Ia menyadari satu hal penting: kesadaran memang datang terlambat, tetapi selalu lebih baik daripada tidak pernah datang sama sekali.