Cerita Fiksi

Raka menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Di kamar sempitnya, lampu neon yang kedap-kedip menambah rasa hampa. Hari-harinya kini hanya diisi oleh bunyi “klik” tombol spin dan notifikasi kemenangan palsu. Dahulu, ia sering keluar, nongkrong dengan teman-temannya, bahkan bermain futsal setiap sore. Namun, sejak ia mengenal situs judi online, dunianya mulai menyempit. Dunia luar terasa terlalu jauh, terlalu ramai, dan ia merasa lebih nyaman di balik layar yang menyala.

Awalnya, semuanya terasa ringan. “Cuma coba-coba, pasti menang dikit,” pikirnya sambil memasukkan saldo kecil. Kemenangan pertama datang cepat, hadiah 500 ribu rupiah membuatnya tersenyum lebar. Senyum itu seperti membuka pintu ke dunia baru—dunia di mana segala sesuatu terasa mudah, cepat, dan menyenangkan. Ia merasa seolah menemukan rahasia kecil yang tidak dimiliki orang lain.

Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Hari demi hari, pesan dari teman-temannya jarang ia balas, ajakan keluarga ia abaikan, dan panggilan ibunya dari dapur sering tidak terdengar. Perlahan, dunia nyata memudar, digantikan grafis cerah dan suara koin yang jatuh dari layar. Semakin lama, Raka semakin tenggelam dalam dunianya sendiri, sampai batas di mana kamar kecilnya mulai terasa seperti penjara.

Dengan setiap hari yang berlalu, tekanan batin mulai muncul. Ia mulai meminjam uang, berjanji pada diri sendiri bahwa “besok pasti balik modal.” Tapi besok selalu membawa kerugian baru, lebih besar dari sebelumnya. Rasa gelisah menggerogoti hatinya, dan rasa bersalah menyelimuti setiap detik yang ia habiskan di depan layar. Ia mulai menyadari, kesenangan yang dulu membuatnya tersenyum kini berubah menjadi beban yang tak terlihat.

Di malam yang sunyi, Raka menatap langit-langit sambil mendengar suara notifikasi jackpot yang ternyata hanyalah “jackpot palsu.” Suara itu terdengar seperti ejekan kecil, mengingatkannya akan semua yang telah hilang: tawa teman-temannya, suara jalan yang ramai, bahkan aroma masakan ibunya. Rasa malu dan penyesalan menahannya, membuat langkahnya menjauh dari dunia nyata terasa semakin panjang.

Layar yang Menyala di Tengah Sepi

Suatu malam, ketika saldo hampir habis dan ponselnya menampilkan pesan “Anda kehilangan semua taruhan,” air mata menetes di pipinya. Ia menangis, bukan hanya karena uang yang hilang, tetapi karena kesadaran pahit bahwa isolasi sosial yang ia pilih bukan kebetulan—melainkan konsekuensi dari obsesinya sendiri. Dunia maya yang penuh warna telah menelan realitasnya, meninggalkan kesepian yang dingin dan sunyi.

Esok harinya, Raka mengambil langkah kecil yang berat: ia menonaktifkan akun-akunnya. Perlahan, ia membuka jendela kamar dan menarik napas panjang. Udara dingin menyapu wajahnya, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia tersenyum. Bukan karena kemenangan instan, tetapi karena ada dunia nyata di luar sana—dunia yang menunggu untuk ia sambut kembali.

Raka tahu, jalan kembali tidak mudah. Ia masih harus memperbaiki hubungan yang renggang, membangun kepercayaan yang sempat hilang, dan belajar menikmati kebahagiaan sederhana. Tapi satu hal yang pasti: isolasi sosial yang dipicu oleh judi online hanyalah jebakan. Dunia nyata lebih berwarna, lebih kompleks, dan koneksi manusia jauh lebih berharga daripada kemenangan instan dari layar yang menyala. Dan dengan setiap tarikan napas, Raka merasakan secercah harapan baru—harapan yang jauh lebih nyata daripada kilau palsu di ponselnya.