Lampu kamar Raka temaram. Jam dinding sudah melewati pukul dua pagi, namun matanya masih terpaku pada layar ponsel. Angka-angka bergerak cepat, warna-warni berkilat seolah menjanjikan sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa ia genggam. Setiap ketukan jari terasa seperti keputusan besar—atau setidaknya begitu yang ia yakini.

Raka selalu bilang pada dirinya sendiri, “Sekali lagi saja.” Kalimat itu menjadi mantra yang berulang, mengisi celah di antara napasnya yang semakin pendek. Ia ingat pertama kali mencoba. Kemenangan kecil, cepat, nyaris tanpa usaha. Sejak saat itu, harapan tumbuh lebih cepat daripada akal sehat.

Malam ini berbeda. Saldo menipis. Detak jantungnya beradu dengan bunyi notifikasi. Ia menunggu hasil, seolah waktu berhenti tepat di sana—di antara harap dan cemas. Ketidakpastian itu menyesakkan, namun anehnya juga memikat. Ada sensasi yang membuatnya bertahan, seakan jawaban hidupnya menunggu di balik satu putaran lagi.

Layar berkedip. Hasil muncul. Bukan yang ia inginkan.

Raka menelan ludah. Keringat dingin membasahi telapak tangan. Ia menatap foto lama di meja—dirinya bersama ayahnya, tersenyum sederhana tanpa beban. Dulu, kebahagiaan tak perlu angka atau peluang. Kini, semua terasa seperti taruhan.

Ia menutup ponsel, lalu membukanya lagi. Ragu. Ada suara kecil di kepalanya yang berkata, “Cukup.” Tapi ada suara lain yang lebih keras, membujuk dengan janji balas modal. Ketidakpastian hasil menjadi ruang abu-abu tempat harapan dan penyesalan bertabrakan.

Akhirnya, Raka meletakkan ponsel di sisi ranjang. Untuk pertama kalinya malam itu, ia memilih diam. Tidak ada kemenangan. Tidak ada kekalahan. Hanya kelelahan dan kesadaran bahwa ia tak bisa terus hidup menggantungkan perasaan pada sesuatu yang tak pernah pasti.

Di luar, hujan mulai turun. Raka menarik selimut dan memejamkan mata. Ketidakpastian masih ada, tapi kali ini bukan di layar—melainkan di masa depan yang ia tahu harus ia susun kembali, pelan-pelan, tanpa taruhan.