CERITA FIKSI

Jam menunjukkan pukul 01.47 dini hari ketika layar ponsel Arga kembali menyala. Cahaya biru memantul di wajahnya yang lelah, sementara matanya justru tampak semakin tajam. Di sudut layar, saldo akunnya masih sama seperti satu jam lalu—tidak bertambah, tidak berkurang. Seolah waktu berhenti hanya untuk mengejeknya.

“Yang ini terakhir,” gumam Arga pelan, entah ditujukan pada siapa.

Kalimat itu terasa terlalu familiar. Ia mengucapkannya hampir setiap malam, setiap kali tombol top up ditekan dengan jari yang sedikit gemetar. Namun malam ini terasa berbeda—setidaknya menurut keyakinannya sendiri. Ada firasat aneh, perasaan tipis yang sulit dijelaskan, bahwa keberuntungan tinggal satu langkah lagi.

Arga bukan orang bodoh. Ia paham peluang dan risiko. Ia hafal istilah RTP dan sering merasa bisa membaca pola permainan. Di siang hari, ia adalah karyawan biasa yang rapi dan rasional. Tapi saat malam tiba, logika itu perlahan menghilang, digantikan oleh harapan kecil yang terus menyala: mungkin kali ini menang.

Notifikasi masuk.
Deposit berhasil.

Deposit Terakhir yang Tak Pernah Terakhir

Dadanya berdebar. Saldo bertambah. Senyum tipis muncul di wajahnya, penuh ekspektasi.

Putaran pertama kalah.
kedua nyaris menang.
ketiga menampilkan simbol yang hampir sempurna.

“Dikit lagi,” bisiknya.

Waktu berjalan tanpa terasa. Kopi di sampingnya sudah dingin. Pesan dari grup keluarga menumpuk tanpa dibuka. Dunia Arga menyempit—hanya ada layar ponsel dan angka saldo yang naik turun seperti detak jantungnya sendiri.

Satu jam kemudian, saldo kembali menipis.

Arga terdiam. Jarinya menggantung di atas layar. Ia mengenal momen ini dengan baik—saat akal sehat mencoba mengambil alih. Namun suara lain muncul, lebih halus, lebih meyakinkan.

Sayang kalau berhenti sekarang. Tanggung. Polanya sudah kelihatan.

Ia tertawa kecil, getir.
“Beneran terakhir,” ucapnya sekali lagi.

Deposit berikutnya masuk bahkan sebelum rasa bersalah sempat tumbuh.

Menjelang subuh, Arga akhirnya berhenti. Bukan karena menang besar, melainkan karena saldo benar-benar habis. Ponselnya diletakkan terbalik di meja. Ia menatap langit yang mulai terang dari balik jendela, merasakan kekosongan yang terasa terlalu akrab.

Yang tersisa bukan amarah, bukan pula penyesalan besar. Hanya satu pikiran sederhana—dan berbahaya:

Besok bisa coba lagi. Siapa tahu.

Di situlah letak ironi hidupnya.
Deposit terakhir itu tak pernah benar-benar terakhir.