Malam itu terasa panjang. Lampu kamar menyala temaram, sementara layar ponsel menjadi satu-satunya cahaya yang benar-benar hidup. Dika berbaring di kasur, tapi pikirannya tertambat penuh pada angka di layar.

Saldo masih ada. Tidak banyak, tapi belum habis.

“Itu tadi hampir menang,” pikirnya.

Kata hampir terdengar menenangkan.

Dika baru beberapa minggu mengenal judi online. Awalnya hanya ingin mencoba. Teman-temannya bilang ini hiburan ringan, sekadar mengisi waktu. Ia pun percaya. Toh, modal awalnya kecil.

Putaran pertama memberinya kemenangan tipis. Tidak besar, tapi cukup membuatnya tersenyum. Sejak saat itu, ia merasa permainan ini bisa dikendalikan.

Malam demi malam berlalu. Kadang menang, sering kalah. Namun setiap kekalahan selalu terasa dekat dengan kemenangan. Simbol yang berhenti satu langkah sebelum sempurna membuat Dika yakin ia berada di jalur yang benar.

“Sedikit lagi,” katanya pada diri sendiri.

Saldo perlahan berkurang. Dika tidak panik. Ia merasa masih punya peluang. Kekalahan kecil ia anggap bagian dari proses. Menurutnya, orang yang menyerah terlalu cepatlah yang benar-benar kalah.

Waktu terus berjalan. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Mata terasa perih, tapi jari masih menekan layar. Ia yakin putaran berikutnya akan berbeda.

Namun hasilnya tetap sama.

Saldo semakin menipis.

Dika mulai gelisah, tapi tetap bertahan. Ia berpikir, jika berhenti sekarang, semua kekalahan sebelumnya akan sia-sia. Ia tidak mau kalah tanpa perlawanan.

Satu putaran terakhir dijalankan.

Layar berhenti. Tidak ada kemenangan. Saldo pun habis.

Sunyi.

Tak ada suara, tak ada warna cerah. Hanya layar kosong dan dada yang terasa sesak. Saat itulah Dika sadar, ia tidak kalah di putaran terakhir, melainkan sejak ia menganggap kekalahan sebagai hampir menang.

Ia menutup aplikasi perlahan.

Malam itu, Dika belajar satu hal sederhana. Dalam judi online, hampir menang sering kali bukan tanda keberhasilan, melainkan jebakan yang membuat orang terus bertahan.

Dan ketika sadar, biasanya sudah terlambat.