Cahaya di Tengah Gelap
Lampu kamar sudah lama dipadamkan. Satu-satunya cahaya berasal dari layar laptop di hadapan Raka. Cahaya biru itu memantul di dinding dan menerangi wajahnya yang pucat.
Di balik pintu yang terkunci, dunia terasa semakin sempit. Seakan hanya ada dirinya, kursi tua, dan suara notifikasi yang sesekali terdengar pelan.
Klik Pertama yang Menggoda
Awalnya, semua terlihat biasa saja. Klik pertama muncul dari rasa penasaran sederhana. Iklan berwarna cerah dan janji hadiah instan membuat segalanya tampak mudah.
Angka di layar berputar cepat. Waktu terasa mengalir tanpa bentuk. Saat saldo bertambah sedikit, Raka tersenyum tipis.
“Hoki malam ini,” gumamnya pelan.
Terjebak dalam Sensasi
Malam terus berjalan tanpa terasa. Jam di sudut layar bergerak pelan, tetapi Raka tak memperhatikannya. Angka-angka kini bukan sekadar nominal.
Angka itu berubah menjadi denyut nadi. Kemenangan kecil membuat dadanya terasa ringan. Sebaliknya, kekalahan membuat napasnya tertahan.
Lambat laun, ia tidak lagi mengejar hasil. Ia mengejar perasaan.
Dunia Nyata yang Memudar
Sementara itu, hujan turun perlahan di luar kamar. Butiran air mengetuk jendela dengan ritme yang tenang. Namun Raka tidak mendengarnya.
Dunia nyata mulai menghilang. Animasi gemerlap dan bunyi koin digital mengambil alih perhatian. Jemarinya terus bergerak tanpa henti.
Klik. Tarik. Lepaskan.
Raka merasa seolah mengendalikan segalanya.
Kuasa yang Rapuh
Namun rasa kuasa itu tidak bertahan lama. Saat saldo mulai menipis, ketegangan muncul. Lehernya terasa kaku dan bahunya menegang.
Ia bersandar sejenak dan menarik napas panjang.
“Sekali lagi,” katanya pada pantulan wajahnya di layar.
Sekali lagi berubah menjadi berkali-kali.
Titik Sunyi di Dini Hari
Pukul dua dini hari, kopi di meja telah dingin. Raka menatap angka terakhir yang tersisa. Tidak ada sorak. Tidak ada cahaya kemenangan.
Yang ada hanya keheningan.
Layar memantulkan wajahnya dengan jujur. Matanya merah. Bahunya turun. Senyumnya menghilang.
Keputusan Kecil
Akhirnya, Raka menutup laptop. Bunyi klik terdengar jelas di kamar yang sunyi. Gelap kembali menyelimuti ruangan.
Ia berdiri dan membuka jendela sedikit. Udara dingin masuk perlahan. Ada rasa perih di dada, tetapi juga ruang untuk bernapas.
Cahaya yang Berbeda
Esok pagi akan datang dengan cahaya lain. Matahari tidak menjanjikan apa-apa selain waktu yang terus berjalan.
Raka tahu layar penuh cahaya akan selalu menggoda. Namun malam ini ia belajar satu hal penting.
Yang paling sulit bukan soal kalah atau menang.
Yang paling sulit adalah berhenti.
Ia menatap kursi kosong di depan meja. Untuk sesaat, ia tersenyum tipis. Bukan karena harapan instan, melainkan karena pilihan kecil yang baru saja ia ambil.
Malam berakhir.
Dan dalam keheningan itu, Raka menyadari satu hal sederhana.
Cahaya sejati bukan yang berkelip di layar, melainkan keberanian untuk memadamkannya.
